Naskah Khutbah Idul Fitri 1439 H / 2018 M

Info Bimas - Hari Raya Idul Fitri 1439 H / 2018 M tinggal menghitung hari, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI menerbitkan Naskah Khutbah Idul Fitri 1439 H / 2018 M. Berikut Naskah Idul Fitri 1439 H / 2018 M:

IDUL FITHRI: MEMBANGUN SEMANGAT PERUBAHAN DIRI
Oleh: H. Subhan Nur Lc
(Kepala Seksi Pengembangan Regulasi dan Metode Dakwah)

Maha Besar Allah atas segala nikmat-Nya. Maha Besar Allah Yang telah mengantarkan kita kepada bulan Ramadhan dan hari Kemenangan ini. Maha Besar Allah Yang menjadikan Ramadhan sebagai wasilah meneguhkan diri sebagai hamba dan manusia. Hamba sebagai pelestari agama dan manusia sebagai pelestari alam semesta. Rahmatnya membangun keharmonisan antara manusia, menguatkan ikatan sosial dan kepedulian, maghfirahnya menautkan hati, menyatukan iman dan menguatkan spiritual, dan Itqun minan-narnya membakar sifat bakhil, rakus, sombong, egoisme, dan sifat-sifat buruk lainnya. Sehingga kategori minal ‘aidiin wal faizin dari madrasah ramadhan ini adalah mereka yang kembali kepada keaslian karakter sebagai makhluk suci baik suci menurut agama, moralitas ataupun sosial. Untuk menggapai semua itu, marilah senantiasa kita melihat diri lebih dalam lagi guna memperkuat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah s.w.t.

Jamaah Idul Fithri Yang dirahmati Allah
Kata ‘Iid di dalam Al Qur’an hanya disebutkan satu kali dan mengandung arti hari raya, yaitu firman Allah surah Al Maidah ayat 114.
Artinya: “Isa putera Maryam berdo'a: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezki Yang Paling Utama".

Adapun istilah ‘Iid berakar dari kata ‘Aada yang artinya kembali, hal ini mengandung arti bahwa seseorang telah lama pergi kemudian ia kembali ke tempat asalnya. Sedangkan kata Fithri berarti kesucian dan asal kejadian. Sehingga penggabungan kedua kata tersebut mengandung arti bahwa seseorang telah pergi jauh meninggalkan kesucian dirinya, lalu proses ‘Ramdha’ atau pembakaran melalui shiyaam dan qiyaam di bulan Ramadhan mengembalikan karakter keasliannya.

Jamaah Idul Fithri Yang dirahmati Allah
Bulan Ramadhan yang baru saja berakhir meninggalkan kesan agar kita selalu menumbuhkan semangat perubahan karakter diri. Ramadhan adalah sang motivator yang membangkitkan semangat manusia setelah terlelap dalam kemalasan, mencairkan kebekuan spiritual dan sosial, dan mengangkat manusia dari penghambaan terhadap harta dan hawa nafsu.

Semangat perubahan inilah target kurikulum pendidikan bulan Ramadhan, karena manusia tergiring secara ikhlas untuk melakukan ibadah selama satu bulan penuh, berpuasa di siang hari dan qiyamullail di malam hari. Goresan-goresan ibadah berbagi juga memenuhi kanvas dimensi sosial bulan tersebut. Maka tak heran, jika orang begitu mudah mengatur waktu untuk ibadah, tilawah, dan berinfaq disela-sela kesibukan aktivitasnya yang sulit mereka lakukan di luar Ramadhan. Inilah Ramadhan sang motivator yang menaklukkan lisan, tangan, kaki dan seluruh tubuh kita untuk mencapai derajat ketaqwaan sebagaimana diisyaratkan dalam Al Qur’an surah al Baqarah ayat 183:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Pada ayat ini, Allah menyeru manusia untuk berpuasa dengan kalimat “Wahai orang-orang yang beriman”, dan menutup ayat ini dengan kalimat “agar kamu bertaqwa”. Artinya puasa merupakan alat perubahan diri dari predikat mukmin ke predikat muttaqi (taqwa). Secara tidak langsung, barometer keberhasilan seorang mukmin dalam menjalankan ibadah puasa adalah adanya perubahan identitas diri.

Semangat perubahan ini berimplikasi secara langsung terhadap sikap dan prilaku dalam beragama, bermasyarakat dan bernegara. Karena perubahan individual berpengaruh secara sistemik terhadap perubahan kolektif baik masyarakat, lembaga maupun negara.

Ada 5 (lima) target yang dicapai dari semangat perubahan diri melalui ibadah puasa ini:

1. Makhluk Beragama

Target pertama adalah perubahan diri menjadi makhluk beragama secara totalitas. Dikatakan makhluk beragama, jika seseorang memandang Al Qur’an dan sunnah sebagai Garis Besar Haluan Agama yang wajib dipatuhi, dan memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi dengan tidak memilah-milah pelaksanaan ajaran. Ada sebagian umat Islam yang mudah melakukan ibadah puasa, namun malas melaksanakan shalat, gemar bershadaqah namun sulit berpuasa, gemar umroh tapi enggan membaca al Qur’an, dan lain sebagainya. Sebaliknya, seorang muslim dituntut menjalankan ibadah secara totalitas, sebagaimana firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Qs. Al Baqarah: 208)

Dalam diri kita terdapat 3 (tiga) kekuatan yang bisa menjadi motivator membangun semangat perubahan menjadi makhluk beragama yang kaffah. Ketiga kekuatan ini berfungsi ganda, selain sebagai motivator (penggerak) juga sebagai deffender (pertahanan) dari segala bentuk pendangkalan aqidah. Ketiga kekuatan itu antara lain:

Pertama,Spiritual Quesion atau Kekuatan spiritual. Kekuatan ini akan menumbuhkan semangat perubahan dan peningkatkan kualitas spiritual dengan memperbanyak ibadah dan dzikir. Karena spiritual sendiri akan membawa perubahan signifikan terhadap identitas diri, kualitas diri dan kualitas hidup.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya, dan siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Dia akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Qs. Ath-Thalaq: 2-3)

Kedua, Intelektual Quesion atau kekuatan intelektual yaitu membangun kekuatan karakter sebagai muslim melalui olah pikir terhadap keagungan Allah dalam ciptaan-Nya. Kekuatan ini dapat dioptimalkan melalui kajian Al Qur’an, membaca buku atau menghadiri majelis-majelis ilmu. Kekuatan ini sangat menentukan kualitas keIslaman dan keimanan, karena kualitas keagamaan dipengaruhi oleh kualitas pengetahuan agama.

Ketiga, Emosional Quesion yaitu mengarahkan kekuatan emosional atau hawa nafsu ke arah positif serta dijadikan sebagai kekuatan pembelaan terhadap kepentingan Islam dan mempertahankan aqidah.

Menurut Syeikh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitab tafsirnya “Marah Labid” menjelaskan bahwa ibadah puasa dipilih sebagai model ibadah yang memudahkan seorang muslim menuju ketaqwaan karena ibadah puasa mengendalikan nafsu perut dan nafsu kemaluan yang menjadi sumber keterpurukan moralitas dan spiritual. Jika seseorang mampu mengendalikan kedua nafsu tersebut maka dipastikan akan lebih mudah mengendalikan nafsu-nafsu lainnya. Inilah peran puasa sebagai motivator perubahan diri sebagai makhluk beragama.

2. Makhluk Yang Suci

Target kedua adalah perubahan diri menjadi makhluk yang suci. Rasulullah SAW mengillustrasikan kesucian manusia pasca ramadhan bagaikan kesucian bayi yang baru dilahirkan, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh imam Nasa’i:

“Sesungguhnya Allah mewajibkan kalian berpuasa dan aku mensunnahkan kalian beribadah di bulan itu. Maka barangsiapa yang berpuasa dan beribadah karena keimanan dan mengharapkan ridha niscaya ia bersih dari dosa-dosanya seperti saat dilahirkan ibunya.”

Dalam diri manusia terdapat akal dan hawa nafsu. Kedua unsur ini senantiasa bertarung menjadi pemenang. Jika dalam pertarungan itu akalnya dapat mengalahkan nafsunya, maka orang itu dapat memperoleh kesucian diri dan dipandang lebih mulia daripada malaikat, namun sebaliknya jika akalnya dapat dikalahkan oleh nafsunya maka orang itu dipandang kotor dan lebih buruk dari binatang. Imam Abul Hasan Al Mawardi dalam kitabnya Adabud Dunya wad Din telah berkata:

“Allah memberikan akal tanpa nafsu kepada malaikat, Allah memberikan nafsu tanpa akal kepada binatang. Sedangkan Allah memberikan keduanya yaitu akal dan nafsu kepada manusia. Maka barangsiapa yang akalnya dapat mengalahkan nafsunya maka ia lebih baik daripada malaikat, dan sebaliknya barangsiapa yang justru nafsunya dapat mengalahkan akalnya, maka ia dipandangn lebih buruk daripada binatang.”

Ibadah puasa mengarahkan kita memperhatikan manajemen qalbu dan akal untuk dikembalikan kepada fungsi aslinya sebagai penguasa dengan menjinakkan hawa nafsu dan menjadikannya sebagai tawanan karena itulah kunci keberhasilan. Seorang ulama ahli hadits Ibnu Hajar Al Asqalani telah berkata:
“Bahagialah bagi orang yang akalnya sebagai penguasa dan hawa nafsunya bagaikan tawanannya, dan celakalah bagi orang yang hawa nafsunya sebagai penguasa dan akalnya sebagai tawanannya".

Oleh karena itu, melalui kurikulum puasa berupa tilawah Al Qur’an, shalat Tarawih, memperbanyak dzikir, syariat zakat mal dan zakat fithrah akan mengarahkan akal menjadi penguasa dan merubah identitas diri sebagai makhluk yang suci.

3. Makhluk Sosial

Target yang ketiga menjadi makhluk sosial. Dimensi sosial merupakan unsur terpenting dalam agama, bahkan kesalehan ritual dipandang hampa dan tak bernilai jika tidak berimplikasi terhadap dimensi sosial. Semua ibadah memiliki muatan sosial, termasuk puasa. Dimensi sosial di bulan Ramadhan ini amatlah kental, karena ditopang oleh semangat kebersamaan yang berlandaskan keimanan sehingga menumbuhkan motivasi keberagamaan dan kebersamaan yang lebih tinggi dibanding bulan-bulan yang lain. Sebagai makhluk sosial, hendaklah manusia memiliki mental dan karakter sosial seperti lebah, dimana lebah bekerjasama membuat sarang, makan dari makanan yang baik dan menghasilkan makanan yang baik. Jika lebah hinggap pada bunga maka ia tidak akan merusaknya, dan masing-masing lebah memiliki porsi madu yang sama. Itulah semangat sosial yang dibangun oleh lebah dengan prinsip gotong royong dan sama rasa sama rata. Madrasah Ramadhan melalui kurikulum lapar dan dahaga dimaksudkan agar setiap muslim memiliki sifat empati terhadap kaum dhuafa, dan berbagi perasaan bahagia kepada anak yatim. Kepedulian sosial ini adalah puncak kebajikan dan barometer kesalehan spritual. Allah SWT memberikan gelar kepada muslim sosial dengan sebutan Al Abrar, sebagaiman firman-Nya:

“Sesungguhnya Al Abrar (orang-orang yang berbuat kebajikan) minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur. mata air yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”(Qs. Al Insan: 5-8)

4. Makhluk Bermoral

Target keempat adalah perubahan karakter sebagai makhluk bermoral. Moralitas merupakan salah satu komponen utama dalam jiwa manusia, dan kesalehan moralitas ditentukan oleh kesalehan spiritual karena arah moralitas ditentukan oleh kekuatan iman. Dalam pandangan Al Ghazali, ibadah-ibadah itu dimaksudkan sebagai sarana pengembangan akhlak dan sarana latihan yang dilakukan berulang-ulang untuk membiasakan manusia berakhlak yang baik. Sebagai contoh, tujuan ibadah shalat untuk mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar. Zakat dilakukan untuk membersihkan harta dan mensucikan jiwa. Puasa diwajibkan untuk mencapai derajat taqwa. Dan Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada gunanya seorang berpuasa, tidak makan dan minum, kalau ia tidak bisa berhenti dari dusta dan melakukan kebohongan public.(HR. Bukhari). Bahkan seorang isteri tidak terima puasanya jika durhaka terhadap suami, seorang anak tidak diterima puasanya jika durhaka terhadap orang tuanya, dan seorang muslim tidak diterima puasanya jika masih berkelahi dengan tetangganya. Inilah peran puasa yang menggerakkan semangat perubahan menjadi makhlul bermoral.

5. Makhluk Bermartabat

Target terakhir adalah tumbuh semangat perubahan menjadi makhluk yang bermartabat. Inilah target utama ibadah puasa yang kita jalankan, yaitu meraih kemartabatan diri dengan taqwa. Ketaqwaan dipandang lebih cepat diraih dengan puasa, karena disitulah terkumpulnya karakter-karakter yang menyampaikan kepada tangga ketaqwaan. Karakter tesebut antara lain: sabar, ikhlas dan tawakkal. Kesabaran akan mengusir rasa jenus dan malas dalam ibadah, keridhaan akan membuat hawa nafsu mengikuti keinginan Allah s.w.t., dan sikap tawakkal mendatangkan kebahagiaan dan kepuasan diri akan perlindungan dan pengawasan ilahi atas-Nya.

Seseorang dikatakan layak bergelar muttaqin jika orientasi sikap dan prilaku mencerminkan 3 arah:

Pertama: yaitu sikap dan prilakunya berorientasi meraih cinta Allah dan menghindari murka-Nya.

Kedua: yaitu menghindari perbuatan yang merugikan diri sendiri dengan menjauhkan segala perbuatan yang berpotensi menimbulkan mudharat terhadap fisik maupun jiwanya.

Ketiga: yaitu menghindari perbuatan yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi orang lain secara khusus, maupun masyarakat atau negara secara umum.

Penutup

Itulah lima perubahan karakter sebagai hasil parade amal ibadah di bulan Ramadhan ini. Buatlah perubahan dalam diri kita, karena perubahan iman akan membawa kepada perubahan amal dan kerja, perubahan amal dan kerja membawa kepada perubahan nasib, dan perubahan nasib akan membawa kepada kebahagiaan abadi. Berkacalah kepada kepompong yang sekian hari berpuasa kemudian berubah menjadi kupu-kupu sempurna, berwarna indah, bersayap cantik dan indah dipandang mata. Dan janganlah berpuasa seperti puasanya ular, dimana ular berpuasa setiap kali berubah kulit, namun namanya tetap ular, sifat dan karakternya tetap sama. Semangat perubahan yang besar akan mendatangkan kebaikan yang tak terhingga. Semangat adalah hiasan para hamba Allah yang mendorong ke derajat yang lebih tinggi, sedangkan kesombongan akan menjatuhkannya ke jurang kerendahan.

Idul Fithri saat ini adalah ungkapan rasa syukur terhadap perubahan karakter diri kita yang diharapkan mampu dilestarikan dan dijadikan benteng kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan di sebelas bulan ke depan. Sehingga dengan mempertahankan semangat perubahan diri ini kita terhindar dari segala amarah dan murka ilahi serta kutukan manusia. Dan itulah hakekat Idul Fithri, sebagaimana yang diisyaratkan oleh saidina Ali r.a ketika seorang lelaki masuk ke rumahnya di saat Idul Fithri, tiba-tiba ia dapati Ali sedang memakan roti yang keras, lalu lelaki itu berkata: Bukankah ini hari raya, sedangkan engkau memakan roti keras? Lalu Ali berkata:

“Hari ini adalah Id bagi orang yang diterima puasanya, diterima amalnya dan diampuni dosanya, hari ini bagi kami adalah Id (hari raya), dan esok hari juga id bagi kami, dan hari yang mana kami tidak bermaksiat kepada Allah maka hari itu adalah Id bagi kami.”

Itulah tujuan Idul Fithri yang kita rayakan pada hari ini. Kini kita bertanya kepada diri kita, Sudahkah puasa kita menjadikan kita sebagai makhluk yang beragama?, Berhasilkah kita menjadi makhluk yang suci?, Sudahkah kita menjadi makhluk sosial?, Sudahkah kita bermoral dengan moral Islam?, dan sudahkah puasa kita menjadikan kita sebagai insan yang bermartabat?

Meraih kelima karakter keaslian kita merupakan surga dunia yang akan mengantarkan seseorang ke surga akhirat.

Demikianlah khutbah Id kali ini, kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa memberikan petunjuk dan bimbingan kita ke jalan yang diridhai-Nya, serta kekuatan istiqamah dalam menjalankan keimanan yang telah kita ikrarkan sehingga kita semua tergolong minal ‘Aidin wal Faizin setiap hari. Amin ya rabbal Alamin

Sumber: bimasislam.kemenag.go.id

0 Response to "Naskah Khutbah Idul Fitri 1439 H / 2018 M"

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar disini. Jika ada komentar yang mengandung unsur SARA, Pornografi, Pornoaksi, Menghina Seseorang/Lembaga, Judi, maka admin akan langsung menghapusnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel